Bird

salju

cursor

header

http://aridhoprahasti.blogspot.com/
Blog Advertising

Slde

lintas me

Selasa, 24 Desember 2013

Hewan di Indonesia yang Sudah Punah dan Hampir Punah

Hewan di Indonesia yang Sudah Punah dan Hampir Punah


Di Indonesia banyak sekali satwa-satwa yang unik dan langka . Tapi tahukah anda bahwa ada hewan di Indonesia yang sudah punah. Untuk mengetahui hewan apa sajaa yang sudah punah, lihat dibawah.

1. Harimau Jawa


Harimau Jawa atau Java Tiger (Panthera tigris sondaica) adalah jenis harimau yang hidup di pulau Jawa. Harimau ini dinyatakan punah pada tahun 1980-an, akibat perburuan dan perkembangan lahan pertanian yang mengurangi habitat binatang ini secara drastis. Walaupun begitu, ada juga kemungkinan kepunahan ini terjadi di sekitar tahun 1950-anketika diperkirakan
hanya tinggal 25 ekor jenis harimau ini di habitatnya. Terakhir kali ada sinyalemen keberadaan Harimau Jawa ialah di tahun 1972. Di tahun 1979, ada tanda-tanda bahwa tinggal 3 ekor harimau hidup di pulau Jawa. Walaupun begitu, ada kemungkinan kecil binatang ini belum punah. Di tahun 1990-an ada beberapa laporan tentang keberadaan hewan ini, walaupun hal ini tidak bisa diverifikasi.

Harimau Jawa berukuran kecil dibandingkan jenis- jenis harimau lain. Harimau jantan mempunyai berat 100-141 kg dan panjangnya kira-kira 2.43 meter. Betina berbobot lebih ringan, yaitu 75-115 kg dan sedikit lebih pendek dari jenis jantan.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Mamalia. Ordo: Carnivora. Famili: Felidae. Genus: Panthera. Spesies: Panthera tigris. Upaspesies: Panthera tigris sondaica. Nama trinomial: Panthera tigris sondaica. (Temminck, 1844)

2. Harimau Bali



Harimau Bali (Panthera tigris balica) adalah subspesies harimau yang sudah punah
dan pernah mendiami pulau Bali, Indonesia.
Harimau ini adalah salah satu dari tiga sub-
spesies harimau di Indonesia bersama dengan
harimau Jawa (juga telah punah) dan harimau
Sumatera (spesies terancam).

Harimau ini adalah harimau terkecil dari ketiga
sub-spesies; harimau terakhir ditembak pada tahun 1925, dan sub-spesies ini
dinyatakan punah pada tanggal 27
September 1937. Sub-spesies ini punah karena kehilangan habitat dan perburuan.

Sangat disayangkan sekali hewan langka seperti diatas masih diburu oleh manusia ,dan akhirnya punah juga :).

Dan dibawah ini adalah hewan Indonesia yang TERANCAM PUNAH akibat manusia.

1. Pesut Mahakam



Pesut Mahakam (Latin:Orcaella brevirostris) adalah
sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-
lumba air tawar yang hampir punah karena
berdasarkan data tahun 2007, Pesut Mahakam
tinggal 50 ekor saja dan menempati urutan tertinggi
satwa Indonesia yang terancam punah.

Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan
ikan paus yang hidup di laut, Pesut Mahakam hidup di
sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka
yang dilindungi Undang-Undang ini hanya terdapat
pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam,
Sungai Mekong, dan Sungai Irawady. Namun, diberitakan bahwa pesut di Mekong dan Sungai
Irrawaddy sudah punah.

Dahulu pesut pernah ditemukan di banyak muara-
muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut
menjadi satwa langka. Kecuali di sungai Mahakam, di
tempat ini habitat Pesut Mahakam dapat ditemukan
ratusan kilometer dari lautan yakni di wilayah
kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar
ini dapat dijumpai di perairan Sungai Mahakam,
Danau Jempang (15.000 Ha), Danau Semayang
(13.000 Ha) dan Danau Melintang (11.000Ha). Pesut
mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi)
dengan kedua matanya yang kecil (mungkin merupakan adaptasi terhadap air yang berlumpur).

Tubuh Pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua,
lebih pucat dibagian bawah - tidak ada pola khas.
Sirip punggung kecil dan membundar di belakang
pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar;
tidak ada paruh. Sirip dada lebar membundar. Pesut
bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan
bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung
lumpur, namun pesut merupakan 'pakar' dalam
mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan.
Barangkali mereka menggunakan ultrasonik untuk
melakukan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya di laut.

Populasi hewan ini terus menyusut akibat habitatnya
terganggu, terutama makin sibuknya lalu-lintas
perairan Sungai Mahakam, serta tingginya tingkat
erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan
hutan di sekitarnya. Kelestarian Pesut Mahakam juga
diperkirakan terancam akibat terbatasnya bahan makanan berupa udang dan ikan, karena harus
bersaing dengan para nelayan di sepanjang Sungai
Mahakam.

2. Mentok Rimba



Mentok Rimba atau dalam bahasa ilmiahnya
Cairina scutulata bisa dikatakan sebagai jenis
bebek paling langka di dunia. Populasinya di
seluruh dunia sangat langka, diperkirakan
hanya tersisa sekitar 1000 ekor. Sekitar 150
ekor terdapat di Taman Nasional Way Kambas, salah satu habitat Mentok Hutan
yang tersisa di Indonesia.

Mentok Rimba dikenal juga sebagai Mentok
Hutan, Serati, Bebek Hutan atau Angsa Hutan
dan dalam bahasa inggris dikenal sebagai
White-winged Wood Duck. Spesies ini
termasuk salah satu burung air dari suku
Anatidae (bebek).

Mentok Rimba (Cairina scutulata) nyaris mirip
dengan spesies Bebek Manila (Cairina
moschata) yang sering dipelihara. Mentok
berukuran besar antara 66-75 cm. Bentuknya
hampir menyerupai bebek. Warna bulunya
gelap dan kepala serta lehernya keputih- putihan. Penutup sayap kecil putih, penutup
sayap tengah dan spekulum abu-abu biru.

Mentok Rimba berhabitat di lahan basah yang
dekat dengan rawa-rawa. Burung jenis ini
suka sekali bersembunyi di siang hari dan
pada malam hari mereka juga dapat aktif
mencari makan sendiri, berpasangan,
maupun berkelompok 6-8 ekor.

Karena hidupnya di lahan basah (air), maka
pembangunan listrik tenaga air dan polusi
manusia menjadi ancaman terbesar bagi
mereka. Selain itu, penurunan polulasinya
juga diakibatkan oleh kerusakan, degradasi,
dan gangguan habitatnya termasuk kehilangan koridor hutan di tepi sungai.
Polulasinya yang tinggal sedikit ini sangat
beresiko terhadap kepunahan.

Habitat Mentok Rimba tersisa di Thailand,
Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, Indonesia,
India, dan Bangladesh dengan jumlah populasi
tidak mencapai 1000 ekor. Di Indonesia,
semula Mentok Rimba ini dapat dijumpai di
Jawa dan Sumatera, namun kini bebek jenis ini telah punah di Jawa. Sedangkan di
Sumatera diperkirakan hanya bertahan di
Taman Nasional Way Kambas dengan
populasi sekitar 150 ekor.

Jumlah populasi dan penyebarannya
menjadikan IUCN Redlist memasukkan Mentok
Rimba dalam kategori Endangered (EN / Genting) yang berarti terancam kepunahan . Status ini sama persis seperti yang disandang
oleh Burung Maleo.

3. Burung Maleo



burung maleo yang dalam nama ilmiahnya
macrocephalon maleo adalah sejenis burung
yang berukuran sedang, dengan panjang
sekitar 55cm. Burung maleo adalah satwa
endemik sulawesi, artinya hanya bisa
ditemukan hidup dan berkembang di pulau sulawesi, indonesia. Selain langka, burung ini
ternyata unik karena anti poligami. Selain sebagai satwa endemik burung maleo
(macrocephalon maleo) ini yang mulai langka
dan dilindungi ini juga merupakan burung
yang unik. Keunikannya mulai dari struktur
tubuh, habitat, hingga tingkah lakunya yang
salah satunya adalah anti poligami.

Makanya tidak mengherankan jika sejak tahun 1990
berdasarkan sk. No. Kep. 188.44/1067/ro/
bklh tanggal 24 pebruari 1990, burung maleo
ditetapkan sebagai satwa maskot provinsi
sulawesi tengah.

Burung maleo memiliki bulu berwarna hitam,
kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata
merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga
dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda
keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk
atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa. Biasanya betina berukuran
lebih kecil dan berwarna lebih kelam
dibanding burung jantan.

Populasi terbanyaknya kini tinggal di sulawesi
tengah. Salah satunya adalah di cagar alam
saluki, donggala, sulawesi tengah. Di wilayah
taman nasional lore lindu ini, populasinya
di taksir tinggal 320 ekor. Karena populasinya
yang kian sedikit, burung unik dan langka ini dilindungi dari kepunahan. maleo dikategorikan sebagai terancam punah di dalam iucn red list. Spesies ini didaftarkan dalam cites appendix i.

Populasi maleo terancam oleh para pencuri
telur dan pembuka lahan yang mengancam
habitatnya. Belum lagi musuh alami yang
memangsa telur maleo, yakni babi hutan dan
biawak. Habitatnya yang khas juga
mempercepat kepunahan. Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di
pegununungan yang memiliki sumber mata
air panas atau kondisi geothermal tertentu.
Sebab di daerah dengan sumber panas bumi
itu, maleo mengubur telurnya dalam pasir.

4. Bekantan



Bekantan atau biasa disebut Monyet Belanda merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan (Indonesia, Brunei, dan Malaysia). Bekantan merupakan sejenis kera yang mempunyai ciri khas hidung yang panjang dan besar dengan rambut berwarna coklat kemerahan. Dalam bahasa ilmiah, Bekantan disebut Nasalis larvatus.

Bekantan dalam bahasa latin (ilmiah) disebut Nasalis larvatus, sedang dalam bahasa inggris disebut Long-Nosed Monkey atau Proboscis Monkey. Di negara-negara lain disebut dengan beberapa nama seperti Kera Bekantan (Malaysia), Bangkatan (Brunei), Neusaap (Belanda). Masyarakat Kalimantan sendiri memberikan beberapa nama pada spesies kera berhidung panjang ini seperti Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng dan Kahau.

Bekantan yang merupakan satu dari dua spesies anggota Genus Nasalis ini sebenarnya terdiri atas dua subspesies yaitu Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis larvatus orientalis. Nasalis larvatus larvatus
terdapat dihampir seluruh bagian pulau Kalimantan
sedangkan Nasalis larvatus orientalis terdapat di bagian timur laut dari Pulau Kalimantan.

Memang sih.. Masih banyak lagi satwa yang hampir punah, tapi saya lagi males :).
Kesimpulan dari data diatas, kita diharuskan menjaga ekosistem alam agar satwa tidak punah atau mati dengan sia-sia. Dan kita juga tidak boleh memburu satwa yang hampir punah dengan alasan uang kalau kayak gitu namanya egois
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aridhoprahasti Education Blog